Sunday, October 02, 2005

Katrina

Gorontalo Post, 10 September 2005

Katrina,
Bencana atau Pelajaran?

Oleh:
Rahman DAKO, Mahasiswa di University of Hawaii at Manoa, USA.

Badai Katrina yang terjadi beberapa waktu lalu, telah meluluh-lantahkan beberapa kota Amerika Serikat yang berada di Gulf Coast di negara bagian Lousiana, Mississippi, dan Alabama, terutama kota New Orleans, Baton Rouge, Houston dan sekitarnya. Diperkirakan korban telah mencapai ratusan ribu orang, sementara ratusan diantaranya dinyatakan meninggal dan yang lainnya masih dalam pencarian. Puluhan ribu masyarakat Amerika yang sebagian besar berkulit hitam terpaksa diungsikan setelah beberapa hari ditampung di kota-kota terdekat. Walikota New Orleans saat ini mengumumkan untuk mengosongkan kota New Orleans, kota yang terparah korban Katrina dan akan memaksa seluruh warga yang masih tersisa untuk mengungsi karena meningkatnya kejahatan dan wabah penyakit karena sampai sekarang kota tersebut masih terendam air. Seluruh media di negara adidaya ini membuat headline dengan berita bencana selama dua minggu terakhir ini. Pemerintah Amerika juga telah memulangkan tentara asal negara bagian Lousiana dari Iraq untuk membantu penanggulangan bencana dan pengamanan. Palang Merah Amerika Serikat mengumumkan bahwa bencana ini adalah yang terbesar dalam sejarah organisasi tersebut. Mereka sekarang melayani lebih dari 145.000 korban dengan menurunkan 18.000 tenaga sukarela di 580 tempat penampungan yang tersebar di 17 kota di Amerika Serikat.

Katrina bukan hanya menyebabkan krisis di Amerika Serikat, tetapi juga mulai menyadarkan mereka bahwa ketergantungan terhadap fasilitas moderen dan ‘pembangunan’ tidak selamanya membantu dan mensejahterakan manusia. Ketergantungan masyarakat Amerika terhadap listrik memang masuk dalam jenis ketergantungan absolut. Pemadaman listrik 5 menit saja bisa membuat walikota dimaki-maki dan bahkan bisa dituntut kalau tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Ini juga bahkan bisa menjadi isu politik yang menjadi pertanda lemahnya manajemen pemerintahan. Saat ini mulai ada suara-suara sumbang yang mengkritik ‘kesombongan’ pemerintahan George W. Bush terhadap korban dan meminta pemerintah untuk menunda ‘pembangunan Iraq’. Keterlambatan pengiriman bantuan bahan makanan dan tentara ke New Orleans dijadikan bahan utama kritikan dari kelompok anti pemerintahan Bush. “Kita bisa mengirim bantuan yang banyak kepada korban tsunami, tetapi kita tidak bisa menanggung penderitaan masyarakat New Orleans,” kata salah seorang pejabat New Orleans kepada The New York Times. Celine Dion, penyanyi lagu The Power of Love yang sempat berjaya di Indonesia selama tahun 90-an, telah menyumbang 1 juta dollar untuk para korban sembari mengkritik pemerintahan Bush dengan mengatakan bahwa dalam sekejab Bush bisa mengirim pesawat-pesawat ke Iraq dan membunuh orang dalam sedetik tetapi tidak bisa cepat menyelesaikan masalah kemanusiaan di negeri sendiri. Ditayangan yang lain, sebuah iklan permohonan bantuan, secara terang-terangan mengatakan bahwa Bush tidak peduli terhadap kulit hitam yang menjadi korban Katrina. Kelompok-kelompok aktivis lingkungan menuduh pemerintah Amerika sebagai yang bebal karena Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara yang mengabaikan protokol Kyoto, sebuah perjanjian internasional untuk mengurangi emisi karbondioksida hasil aktivitas industri yang disinyalir menjadi penyebab bertambah dashyatnya Katrina karena pemanasan global. Mereka juga menuding perombakan daerah sekitar sungai Mississippi dan pengubahan wilayah rawa di muara Mississippi menjadi ‘kota’ menjadi penyebab makin parahnya banjir bandang di kota New Orleans.

Kota New Orleans digambarkan laksana kota mati. Mesin ATM, fountain water, pending mesin, dan komputer tidak berfungsi. Kompor listrik tidak menyala. Di hari-hari pertama bencana, korban mengalami kesulitan mendapatkan bahan makanan dan air minum. Mall-mall dan supermarket tidak dapat melayani pembelian karena tergantung pada mesin yang butuh listrik. Mesin pendingin (AC) di gudang-gudang penyimpanan makanan mati sehingga makanan membusuk. Katrina juga telah menyebabkan tingginya harga bensin di seluruh daratan Amerika Serikat. Di Hawaii, harga bensin mencapai $ 3.50 per gallon (= Rp. 30.500 per 3.78 liter). Harga bensin naik karena rusaknya kilang penampungan minyak di New Orleans dan Mississippi. Bagi warga Amerika yang telah menjadikan mobil sebagai kebutuhan, kenaikan harga bensin membuat banyak orang menjadi stress. “We have to back to the horses”, kata seorang ibu yang sedang menunggu antrian di depan pompa bensin di Honolulu.

Televisi ABC menyoroti perampokan yang dilakukan di toko-toko dan supermarket. Seorang kulit hitam diperlihatkan sedang membawa tas plastik yang penuh dengan makanan. Dia terus terang mengaku sedang looting (menjarah) di sebuah toko makanan karena lapar. Ada juga sepasang suami istri berkulit putih yang mengaku sedang ‘mencari’ makanan di supermarket yang tidak ada penjaganya. Pemerintah Amerika langsung mengumukan tembak ditempat bagi para perampok dan gangster bersenjata yang beberapa hari sempat menguasai kota New Orleans karena tentara Amerika baru bisa masuk kota beberapa hari setelah bencana. Pemerintah kota, state dan federal mencari mengadakan pertemuan untuk mencari sebab mengapa keterlambatan terjadi. Ternyata negara secanggih dan semodern Amerika masih terlambat berkoordinasi dalam menghadapi bencana.

Walaupun Katrina telah membawa kesedihan yang dalam bagi para korban dan keluarga, tetapi banyak pelajaran menarik dari bencana ini. Modernism bukan hanya membawa keberuntungan, tetapi juga membawa bencana yang tidak diprediksi oleh manusia-manusia modern itu sendiri. Sebagian bangsa Amerika yang rasional, yang mengganggap teknologi dan ilmu pengetahuan sebagai ‘Tuhan’, benar-benar dijewer oleh Katrina. Perkiraan bahwa akibat Katrina tidak sedahsyat perkiraan ilmuan Amerika merupakan pertanda bahwa kesombongan Amerika terhadap kejayaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu dilengkapi.

Sebagian orang Amerika masih menganggap bahwa masyarakat di dunia ketiga termasuk Indonesia secara sosial terstrukturkan sebagai negara yang kurang civilized. Dan itu selalu menjadikan kita sebagai bangsa yang selalu di anggap remeh dan kurang beradab bila berada di antara orang-orang kebanyakan di Amerika, walaupun ada ada banyak juga kelompok terdidik yang sangat sopan dan hormat kepada kita. Perang Iraq dan beberapa kali pemboman di negeri kita beberapa waktu lalu menambah sinis pandangan tersebut. Pertanyaan yang sering saya temui adalah mengapa bangsa kita saling membom dan membunuh orang yang tak berdosa. Imej tersebut sekarang setidaknya telah diperlihatkan juga di negara yang mengaggap diri sebagai bangsa yang lebih segala-galanya dari bangsa lain. Persoalan perut dan survival baik yang terjadi secara terstruktur maupun yang ‘alami’ sebenarnya merupakan salah satu yang utama dari persoalan keruntuhan moral manusia, selain keserakahan. Di New Orleans sangat jelas terlihat bahwa manusia bisa berbuat apa saja kalau sudah dihadapkan pada ketakutan akan kelaparan dan kematian. Dalam kondisi seperti ini, manusia bisa memerkosa, merampok dan ‘memakan’ manusia yang lain sekalipun. Walaupun Katrina telah membawa bencana, tetapi ada sisi lain telah memberi makna tersendiri dan menyadarkan manusia akan kelemahannya sebagai makluk. Mudah-mudahan saja pemerintahan Bush, orang Amerika yang masih bebal dan kita semua bisa tersadarkan oleh Katrina. Saya juga turut berduka cita terhadap korban jatuhnya pesat di Medan, semoga kita bisa memetik pelajaran dari bencana ini.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home