Sunday, October 02, 2005

Ilmuwan Dukung Newmont?

KOMPAS, 17 Mei 2005
http://kompas.com/kompas%2Dcetak/0505/17/opini/1757932.htm


ILMUWAN DUKUNG NEWMONT: LANGKAH BODOH?

Oleh: Rahman DAKO*


Tambahkan Papua Barat pada daftar jaket malu kami yang sudah terlampau berat ini. Setidaknya demikian arti ungkapan Denise Leith dalam pembukaan bukunya The Politic of Power: Freeport in Suharto’s Indonesia (2003) tentang perilaku orang Barat dan akibat yang ditimbulkan oleh PT. Freeport Indonesia terhadap lingkungan dan masyarakat suku Amungme dan Komoro di Papua Barat. Saya teringat kalimat yang Denis Leith ini ketika membaca Media Indonesia online tanggal 12 Mei kemarin yang menulis tentang LSM tentang keberpihakan beberapa para peneliti kita dalam seminar international yang dipelopori oleh Newmont dan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) terhadap kasus yang menimpa warga Buyat. Sebagai salah seorang alumni yang pernah belajar di Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan tahun 1991-1996, saya juga merasa malu dengan keberpihakan UNSRAT secara kelembagaan dalam lokakarya ini.

Saya tidak habis pikir bagaimana UNSRAT melihat masalah ini dengan sebelah mata dan seolah-olah tidak mencerminkan bahwa UNSRAT adalah lembaganya ilmiah yang kredibel dan diharapkan menjadi pelindung warga Sulawesi Utara pada umumnya. Ditengah-tengah kontroversi dan polemik yang berkepanjangan, baik dari sisi ilmiah maupun politik, seharusnya Universitas Sam Ratulangi tidak mengambil langkah yang menurut saya termasuk langkah yang kurang pintar ini. Ini sudah kali kesekian UNSRAT telah kaki tangan Newmont dalam membersihkan namanya di mata publik Sulawesi Utara. Dari laporan-laporan yang saya baca, UNSRAT banyak kali diminta dan dibayar untuk terlibat dalam memprakarsai seminar dan penelitian tentang Newmont. Sungguh saya merasa malu.

Di tanah kelahirannya, Newmont jelas diberitakan sangat miring. New York Times telah beberapa kali memuat berita tentang pelanggaran-pelanggaran Newmont terhadap lingkungan dan ketidakwajarannya dalam masalah lingkungan. New York Times adalah koran terbesar di Amerika dan juga koran di daerah asalnya pendiri Newmont, Colonel William Boyce Thompson. Wartawan New York Times, Jane Perlez (bukan Jane Pangemanan), yang juga pernah melihat langsung masyarakat Buyat dan menulis banyak tentang Newmont, justru mendapat penghargaan sebagai ‘exposing an environmental hell’, yang menunjukkan neraka keberadaan Newmont di Buyat. Jane mendapat anugerah dari Overseas Press Club, setelah dia menulis tentang Buyat dan masalah kesehatan serta membongkar perilaku buruk perusahaan ini (lihat New York Times, 28 April 2005). New York Times menjadi barometer media di Amerika Serikat selain karena laporan-laporannya yang akurat dan terpercaya, juga karena menjadi santapan harian jutaan warga Amerika.

Pada hari yang sama dengan pemberitaan New York Times, Denver Post, koran dimana Newmont berpusat, memberitakan bahwa saham Newmont melorot sampai 6,3%. Pemberitaan ini berbarengan dengan pertemuan tahunan pemegang saham Newmont di Denver, dimana pertemuan ini juga dihadiri oleh para aktivis lingkungan yang memprotes perilaku buruk Newmont di seluruh dunia. Para aktivist berasal dari negara-negara dimana Newmont melakukan operasi penambangannya, antara lain Peru, Indonesia, Peru, Ghana, Romania and Nevada. Dalam koran lokal di Denver ini, sang Presiden Newmont, Pierre Lassonde, langsung mengakui bahwa keterjungkalan ini diakibatkan oleh pengoperasian Newmont termasuk masalah lingkungannya.

Kembali ke masalah Buyat, menurut hemat saya, seharusnya UNSRAT tidak harus terlibat jauh. Biarkanlah Prof. Dr. Haryoto Kusnoputranto, salah seorang peserta seminar dari Universitas Indonesia yang turut unjuk gigi dan akan bersedia menjadi saksi membela Newmont di persidangan. Tanpa mengurangi hormat saya kepada kemampuan keilmuan para ilmuwan kita, saya tidak begitu percaya pada para ahli kita yang begitu sesumbarnya menyatakan bahwa Buyat tidak tercemar. Penelitian yang dilakukan oleh Timnya Pak Haryoto bersama ‘para pakar’ seperti yang diberitakan oleh beberapa media sebelumnya memang menunjukkan bahwa kadar merkuri di Buyat belum terungkap dan rendah. Ini karena sampel yang diambil dari penduduk Buyat Pante hanyalah 14 orang atau kurang dari 9% dari keseluruhan sampel yang diambil. Padahal justru dari sanalah Newmont membuang tailingnya ke laut dan mempengaruhi air minum dan kesehatan warga.

Dunia international seolah telah mengakui bahwa Newmont telah ‘bersalah’ dengan masalah lingkungannya di Buyat. Tetapi UNSRAT, lembaga saya tempat saya pernah menuntut ilmu justru berpihak kepadanya. Tetapi saya langsung berpikir lain. Mungkin wajar kalau UNSRAT mengambil langkah demikian, karena 2 orang dari 5 pejabat Newmont yang ditahan adalah kakak tingkat saya yang juga lulusan Ilmu Kelautan UNSRAT. Linda Smith (2003) dalam bukunya Decolonizing Methodologies, Research and Indigenous People mengingatkan bahwa yang lebih berbahaya dan menghancurkan masyarakat adat/lokal adalah para ahli dan peneliti yang berasal dari suku dan bangsa mereka sendiri. Oleh karena itu perlu ada dekonstruksi metode penelitian yang selama ini selalu menguntungkan orang luar.

*Penulis, alumni Ilmu Kelautan UNSRAT, sedang belajar di University of Hawaii at Manoa.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home